Brahma Vihara I PDF Print E-mail
Written by I. B. Rahoela, S.Sos.   
Monday, 11 August 2008 06:00

Pada bulan Mei 1957, di sebuah vihara kecil di Watugong, Semarang diselenggarakan perayaan Waisak, panitia mengundang umat Buddha, simpatisan dan kelompok-kelompok kebathinan di seluruh Indonesia,termasuk Bali. Dari Bali diwakili oleh Ida Bagus Giri. Melalui pertemuan yang sangat bersejarah itu, terjadilah pertukaran informasi yang sangat penting yang memicu bangkitnya kembali Buddhisme. Kemudian tahun 1958 Narada Mahathera didampingi Bhikkhu Ashin Jinarakkhita berkunjung ke Bali dan melakukan dialog serta ceramah kepada kelompok kebathinan di beberapa kota, di antaranya Singaraja, Amlapura dan Denpasar.

Dari hasil ceramah dan dialog yang intensif itu kini kelompok-kelompok kebathinan mulai mengenal metode untuk mengatasi problem kehidupan yaitu melalui praktek Tiga Rangkaian Penyelesaian yaitu: praktek Sila (moralitas), Samadi (pembersihan pikiran) dan Panna (kebijaksanaan).
Untuk dapat mempraktekkan Tiga Rangkaian Penyelesaian itu perlu latihan yang berkesinambungan tanpa henti. Untuk melatih Samadi bagi para pemula diperlukan tempat yang kondusif, maka dengan diprakarsai oleh Ida Bagus Giri dan I Nengah Astika serta didukung penuh oleh kelompoknya, didirikanlah sebuah vihara di sebelah barat sebuah sumber air panas di desa Banjar milik Ida Bagus Oka. Bangunan vihara itu terdiri dari sebuah bangunan Dharmasala yang berukuran 6x10 m2, sedangkan Kuti dibangun disekitar Dharmasala dengan menggunakan bahan bambu, daun kelapa sebagai dinding dan atap. Sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat tinggi dan penting, setidak-tidaknya bagi sejarah perkembangan agama Buddha di Bali. Vihara yang sangat sederhana ini diberi nama Brahma Vihara, yang berarti tempat untuk latihan praktek melaksanakan sifat-sifat Brahma yaitu: Metta, Karuna, Mudita dan Uphekka.
Brahma Vihara menjadi tempat latihan meditasi yang cukup dikenal oleh umat Buddha, simpatisan dan masyarakat, khususnya Bali dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tercatat peserta meditasi dari berbagai daerah antara lain Bengkulu, Palembang (Sumatera), Jakarta, Bandung, Cirebon, Surabaya, Malang dan lain-lain (Jawa), Mataram (NTB) dan daerah-daerah lainnya. Pada tahun 1959 Brahma Vihara dikunjungi oleh Bhikkhu-Bhikkhu dari Birma, Sri Langka, Thailand, Malaysia dan Indonesia sendiri. Sejalan dengan perkembangan umat Buddha yang kian membutuhkan guru/pembina; maka, pada tanggal 12 Januari 1962 Ida Bagus Giri (yang saat itu telah menjadi Upasaka Pandita Dharmaruci) ditahbiskan menjadi Samanera Jinagiri oleh Bhikkhu Ashin Jinarakita dan selanjutnya menetap di Brahma Vihara. Kemudian 15 November 1966 Samanera Jinagiri di Upasampada menjadi Bhikkhu Girirakkhito di Marble Temple Bangkok,ThaiJand.
Kini peran Bhante Giri tidak lagi terbatas di Brahma Vihara saja, tetapi beliau sudah berkeliling hampir keseluruh wilayah Indonesia, maka nama Brahma Vihara ikut semakin terkenal. Dengan demikian semakin banyak masyarakat datang ke Brahma Vihara, tidak saja umat Buddha dari Indonesia ,bahkan dari luar negeri pun datang untuk berlatih meditasi. Brahma Vihara makin hari makin ramai dikunjungi. Dharmasala menjadi semakin sempit. Kuti kini tidak memadai lagi, maka niat untuk memperluas kian mengkristal, tetapi yang menjadi problema adalah tanah lokasi Vihara merupakan pinjaman dari saudara ipar Bhante Giri yang masih dibutuhkan oleh pemiliknya.

 

Last Updated on Thursday, 30 April 2009 03:26