Perkembangan Brahmavihara Arama

Perkembangan jumlah orang yang memiliki niat belajar agama Buddha dan berlatih meditasi semakin meningkat. Sementara fasilitas selain kondisi alam Brahma Vihara tidak lagi kondusif. Dengan tekad yang kuat, Bhante Girirakkhito mencari alternatif lokasi dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu antara lain:

  • lokasi mudah dijangkau, tetapi berada dipinggir pemukiman penduduk,
  • lokasi merupakan tanah perbukitan yang apabila dibangun vihara dapat dibentuk tingkat-tingkatan tetapi kemiringan tanah masih dalam batas toleransi
  • Buddharupang nantinya dapat ditempatkan menghadap ke timur atau ke utara (laut)
  • kalau mungkin berada di hulu wilayah desa
  • laut dan gunung terlihat dekat.

Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut maka pilihan ditetapkan di hulu wilayah Desa Banjar Tegehe, Kecamatan Banjar. Tetapi di lokasi baru ini yang menjadi kendala utama adalah air.

Lokasi ini merupakan tanah bebukitan yang gersang, yang berada di sebelah barat sungai Tampekan. Jarak lokasi vihara dengan sungai Tampekan ±700 meter dengan ketinggian ±150 meter dari permukaan sungai. Namun demikian semangat umat yang membaja mampu meluruhkan kendala tersebut. Untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk membangun, umat bergotong royong mengambil air ke sungai, maka awal tahun 1970 dimulailah pembangunan vihara di areal seluas 3000 m2 sumbangan keluarga Bhante Girirakkhito. Untuk sementara Bhante Girirakkhito tinggal di sebuah gubuk yang terbuat dari bambu dan daun kelapa dengan lantai tanah.

Pengerjaan pembangunan di samping menggunakan sistem upahan juga sangat ditunjang oleh dukungan umat setempat untuk melaksanakan gotong royong. Setahun dapat diselesaikan 2 unit bangunan yaitu: 1 unit bangunan Dharmasala dan 1 unit bangunan kuti yang terdiri dari 5 kamar tidur.

Tanggal 11 Mei 1971 pertama kali diselenggarakan upacara Waisaka Puja di Brahma Vihara yang baru ini sekaligus Buddhabhiseka (penempatan Buddharupang) hadiah dari Upajaya-nya Bhante Girirakkhito dari Thailand. Rombongan Bhikkhu dari Thailand di bawah pimpinan Bhante Dharmakerti Mahathera (Upajaya-nya Bhante Girirakkhito) yang diikuti oleh Ven. Pra. Dep Gunabon., Bhante Khemadasi, Bhante Acharya, Bhante Wirya dan lain-lain serta Bhante Jinarathana (kini Panjika) dari Indonesia serta Bhante Girirakkhito sendiri.

Upacara ini diikuti oleh umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain: Jakarta, Palembang,, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang dan Banyuwangi. Pada kesempatan itu tampil kesenian daerah Bali, kesenian/tari Jaran Kepang dari Banyuwangi, kesenian dari Sumatera dan lain-lainnya. Pelaksanaan upacaranya sendiri sangat kental menampilkan budaya Bali. Dari pihak pemerintah hadir Bupati Buleleng, bapak Hartawan Mataram beserta Muspida Buleleng. Masyarakat yang hadir tidak terbatas umat Buddha saja tetapi umat Hindu pun hadir dan ikut lumh dalam upacara tersebut. Ini suatu bukti bahwa agama Buddha adalah juga agama leluhur mereka. Sejak Buddhabhiseka itulah Brahma Vihara diberi nama Brahmavihara Arama.

Tahun 1972 umat Buddha desa Banjar Tegehe dibawah koordinasi Jro Dalang Nyoman Gde berhasil membeli tanah di sebelah selatan tanah Brahmavihara Arama seluas lOOO m2 dan langsung disumbangkan kepada Brahmavihara Arama. Bulan oktober tahun 1971 Brahmavihara Arama mendapat perhatian dan kunjungan Presiden Perhimpunan Buddhis sedunia: Princess Poon Pismai Diskul yang juga adalah bibi raja Thailand. Berkat dukungan umat Buddha seluruh Indonesia perlahan-lahan dapat dibangun fasilitas-fasilitas penunjang lainnya seperti Kuti II, dapur dan gudang serta atas prakarsa Suhu Acong dari Jakarta pada tahun 1976 sebelah utara bangunan Dharmasala dibangun Pagoda Avalokitaswara.

Namun sayang, tiga hari setelah bangunan Pagoda Avalokitaswara yang diresmikan tanggal 14 Juli 1976 Bali khususnya Buleleng diguncang gempa bumi tektonik yang menelan korban jiwa lima ratusan orang dan meratakan bangunan-bangunan dengan tanah tidak terkecuali bangunan Brahmavihara Arama. Dharmasala roboh, Pagoda roboh total sebagian Kuti I dan dapur serta gudang, yang selamat hanya Kuti II.

Gempa bumi ini berlangsung berbulan-bulan, dan selama itu pula Bhante Girirakkhito terpaksa tidur di halaman vihara di bawah kolong meja dengan dinding jubah. Bhante Girirakkhito nyaris putus asa. Betapa tidak, vihara yang dibangun bertahun-tahun lenyap hanya dalam waktu beberapa detik. Jerih payah umat lenyap hanya dalam waktu sekejap. Kebanggaan dan kegembiraan ikut terkubur dalam rerantuhan. Namun Bhante Girirakkhito sambil memandangi pilar-pilar penyangga Dharmasala yang telah luluh lantak segera menyadari:

Itapaccayata Paticca Sammuppada Dhamma 

yang artinya segala sesuatu yang terciptakan tunduk kepada hukum perubahan, segala sesuatu tunduk kepada hukum alam. Dengan sisa-sisa kekuatannya Bhante Girirakkhito mencoba untuk bangkit, membangkitkan semangat dirinya sendiri, membangkitkan semangat umatnya.

Ibarat gayung bersambut, bangkitnya semangat Bhante Girirakkhito untuk mengabdi kepada Dharma disambut gembira oleh umat Buddha dan masyarakat. Secara perlahan-lahan Bhante Girirakkhito bersama umat Buddha dan masyarakat kembali membangun di atas puing-puing. Hingga tahun 1982, ketika YM Dalai Lama berkenan berkunjung ke BVA, Bhante Girirakkhito belum mampu membangun kembali Pagoda Avalokitaswara. Kondisi bekas reruntuhan bangunan pagoda sempat menjadi perhatian YM Dalai Lama, kemudian beliau menyarankan agar Bhante Girirakkhito membangun Stupa diatas lokasi Pagoda. Kemudian Bhante Girirakkhito mengikuti saran itu, dan YM Dalai Lama berkenan menghadiahkan kitab suci, patung Buddha ukuran kecil dan Relik melalui Rio Helmi untuk ditempatkan di dalam Bangunan Stupa. Semenjak kunjungan Y M Dalai Lama ke Brahmavihara Arama, banyak Rimpoche asal Tibet berkunjung dan menginap di Brahmavihara Arama.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *